Showing posts with label Ilmu Fisika. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Fisika. Show all posts

Saturday, 29 April 2017

Rumus Hukum II Kirchhoff dan Contohnya

Rumus Hukum II Kirchhoff  - Hukum II Kirchhoff atau hukum loop menyatakan bahwa jumlah perubahan potensial yang mengelilingi lintasan tertutup pada suatu rangkaian harus sama dengan nol. Hukum ini di dasarkan pada hukum kekekalan energi.

Secara matematis hukum II Kirchhoff dapat dinyatakan sebagai berikut.  

Rumus Hukum II Kirchhoff
Rumus Hukum II Kirchhoff 

Keterangan:E : ggl sumber arus (volt)I : kuat arus (A)R : hambatan (Ω ) (Ω dibaca OHM)

Pada perumusan hukum II Kirchhoff, mengikuti ketentuan sebagai berikut.
a. Semua hambatan (
R) dihitung positif.
b. Pada arah perjalanan atau penelusuran rangkaian tertutup (loop), jika sumber arus berawal dari kutub negatif ke kutup positif, maka gglnya dihitung positif. Jika sebaliknya dari kutub positif ke kutub negatif, maka ggl nya dihitung negatif.
  

Tanda positif dan negatif ggl
Tanda positif dan negatif ggl  
(Baca juga Elemen GGL)
c. Arus yang searah dengan penelusuran loop dihitung positif, sedang yang berlawanan dengan arah penelusuran dihitung negatif.
d. Jika hasil akhir perhitungan kuat arus bernilai negatif, maka kuat arus yang sebenarnya merupakan kebalikan dari arah yang ditetapkan
  

Rumus Hukum II Kirchhoff 

a. Kuat Arus Listrik dalam Rangkaian Sederhana  

Pada dasarnya sumber tegangan ggl memiliki hambatan dalam yang disimbulkan dengan r. Nilai r ini adalah nilai hambatan yang ada dalam ggl sumber tegangan pada suatu rangkaian. Perhatikan
Gambar di bawah ini:
Rangkaian tertutup
Rangkaian tertutup  

Pada gambar tersebut melukiskan rangkaian tertutup yang terdiri atas sebuah sumbu arus dengan ggl
E, hambatan dalam r, dan sebuah penghambat dengan hambatan R, sedang arus pada rangkaian I. Menurut hukum II Kirchhoff, pada rangkaian berlaku persamaan seperti berikut. 

hukum II Kirchhoff
hukum II Kirchhoff  

Keterangan:E : ggl sumber arus (V)I : kuat arus (A)r : hambatan dalam sumber arus (  )R : hambatan penghambat (  ) 

Nilai I × R pada persamaan di atas merupakan tegangan penggunaan di luar sumber arus yang disebut tegangan jepit (K). Jadi, persamaan di atas dapat ditulis sebagai berikut. 

Keterangan:K : tegangan jepit (V)  

Contoh Soal Hukum Kirchhoff

Sebuah kawat penghantar dengan hambatan 11,5 ohm dihubungkan dengan sumber tegangan 6 V yang hambatan dalamnya 0,5 ohm.
Hitunglah kuat arus pada rangkaian dan tegangan jepitnya!
Diketahui
a. R : 11,5 b. E : 6 V
c.
r = 0,5 

Ditanyakan
a. I = ...?
b.
K = ...?

Jawab
 :

b. Kuat Arus Listrik dalam Rangkaian Majemuk (Kompleks)  

Gambar di bawah ini menunjukkan satu rangkaian tertutup yang terdiri atas satu loop. Misalkan arah arus dan arah penelusuran loop kita tentukan searah putaran jarum jam. Menurut hukum II Kirchhoff pada rangkaian berlaku persamaan ∑E = ∑(I × R) . Oleh karena itu persamaannya menjadi seperti berikut.  
Rangkaian satu loop.
Rangkaian satu loop.  

Jika pada penjabaran di atas dihasilkan nilai I negatif, maka arah arus yang sebenarnya adalah kebalikan dari arah yang ditentukan pada gambar. Bagaimana jika penelusuran rangkaian berawal dari satu titik dan berakhir pada titik lain? Misalkan Anda akan menentukan tegangan atau beda potensial antara titik A dan B pada Gambar di atas. Berdasarkan Hukum II Kirchhoff dapat dihitung dengan persamaan berikut  
Untuk rangkaian yang memiliki dua loop atau lebih dapat diselesaikan dengan hukum II Kirchhoff dan hukum I Kirchhoff. Perhatikan Gambar di bawah ini!
Pada gambar di atas dilukiskan rangkaian tertutup yang terdiri atas dua loop. Arah arus dan arah penelusuran tiap loop. Misalkan Anda bagi menjadi seperti berikut.  

Contoh Soal Hukum Kirchof dengan Loop

Diketahui
a. E1 = 8 V
b.
R1 = 4 c. E2 = 18 V
d.
R2 = 2 e. R3 = 6 

Ditanyakan
a. I1 = ...?
b.
I2 = ...?
c.
I3 = ...?  

Jawab:  

Nilai I1, Anda masukkan ke persamaan (2) 
8 = 10 I1 + 6 I2
8 = 10 (–1) + 6 I2I= 3 A
Nilai
I2, Anda masukkan pada persamaan (1)I3 = I1 + I2= –1 + 3
= 2
I1 negatif, berarti I berlawanan dengan arah yang telah ditentukan.

Ada pertanyaan mengenai Rumus Hukum II Kirchhoff dan Contohnya ini? Silahkan kunjungi fanspage di FB Garda Pengetahuan.

Monday, 23 January 2017

Awalan-awalan untuk pangkat dari 10

Awalan-awalan untuk pangkat dari 10 - Jika anda sedang belajar kimia ataupun biologi, maka memelajari Awalan-awalan untuk pangkat dari 10 ini akan sangat bermanfaat, karena akan digunakan untuk banyak sekali materi.

Awalan-awalan untuk pangkat dari 10

Awalan-awalan untuk pangkat dari 10
Awalan-awalan untuk pangkat dari 10
Semoga bisa bermanfaat yah, Awalan-awalan untuk pangkat dari 10

Tabel Orde magnitudo massa beberapa benda

Tabel Orde magnitudo massa beberapa benda - Tabel ini bermanfaat bagi anda untuk menentukan tetapan umum massa suatu benda di alam semesta ini.

Orde magnitudo massa beberapa benda (Tipler, 1991)
Orde magnitudo massa beberapa benda (Tipler, 1991)
Tabel Orde magnitudo massa beberapa benda

Tabel Orde magnitudo panjang beberapa benda

Tabel Orde magnitudo panjang beberapa benda - Berikut ini kami sajikan Tabel. Orde magnitudo panjang beberapa benda yang bisa bermanfaat bagi anda para peserta didik.

Tabel Orde magnitudo panjang beberapa benda
Semoga bisa bermanfaat yah Tabel Orde magnitudo panjang beberapa benda

Wednesday, 14 December 2016

Rumus Kecepatan Debit Air

Rumus Kecepatan Debit Air - Fluida dinamis adalah fluida yang bergerak. Besaran-besaran apa yang perlu dipelajari pada fluida dinamis itu? Jawabannya dapat kalian pelajari pada penjelasan berikut:

Pada fluida yang bergerak memiliki besaran yang dinamakan debit.Apakah kalian pernah mendengar besaran ini? Debit adalah laju aliran air. Besarnya debit menyatakan banyaknya volume air yang mengalir tiap detik.

Rumus Kecepatan Debit Air

Rumus Kecepatan Debit Air
Rumus Kecepatan Debit Air
Keterangan Rumus Debit Air:
dengan :  
Q =  debit (m3/s)
V  = volume air yang mengalir (m3)
t  = waktu aliran (s)

Apabila melalui sebuah pipa maka volume air yang mengalir memenuhi V = A . S. Jika nilai ini disubstitusikan ke persamaan diatas dapat diperoleh definisi baru sebagai berikut.

Rumus Debit Air
Rumus Debit Air
Pipa aliran fluida atau air biasanya memiliki penampang yang tidak sama. Contohnya pipa PDAM. Pipa aliran yang ada di jalan-jalan besar diameternya bisa menjadi 30 cm tetapi saat masuk di perumahan bisa mengecil menjadi 10 cm dan mencapai kran di rumah tinggal 20 cm. Jika air mengalir tidak termanfaatkan maka akan berlaku kekekalan debit atau aliran fluida dan dinamakan kontinuitas. Kontinuitas atau kekekalan debit ini dapat dituliskan sebagai berikut. Cermati persamaan tersebut.


Semoga tulisan kami mengenai Rumus Kecepatan Debit Air ini bisa bermanfaat yah.

Friday, 18 November 2016

Elemen - Elemen Primer Gaya Gerak Listrik

Elemen - Elemen Primer Gaya Gerak Listrik - Semua sumber arus listrik memiliki kemampuan memberikan gaya pada elektron sehingga elektron dari sebuah atom materi dapat bergerak. Gaya dari sumber baterai yang demikian disebut sebagai gaya gerak listrik (ggl).

Elemen - Elemen Primer 

Elemen primer merupakan sebuah sumber arus listrik. Elemen primer merupakan sumber arus listrik yang bersifat sekali pakai. Artinya jika sumber arus tersebut sudah habis energinya, kamu tidak dapat mengisi elemen primer. Kamu harus mengganti sumber arus listrik tersebut dengan sumber arus yang baru.

a. Baterai (Elemen - Elemen Primer)
Tahukah kamu mengapa baterai dapat memberikan arus listrik? Baterai merupakan elemen kering. Jika kamu amati, baterai memiliki dua kutub yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif baterai berupa batang karbon yang dibenamkan ke dalam campuran mangan dioksida (MnO2) dan amonium klorida (NH4Cl). Kutub negatif baterai adalah lapisan paling luar yang terbuat dari seng (Zn).Gambar dibawah ini adalah gambar baterai yang mempunyai kutub positif dan kutub negatif. 

Campuran mangan dioksida berfungsi sebagai zat pelindung elektrolit. Di antara lapisan paling luar yaitu seng berfungsi sebagai kutub negatif dan campuran mangan dioksida terdapat pasta amonium klorida yang berfungsi sebagai elektrolit. Di antara kutub positif dan kutub negatif ini terdapat beda potensial. 

Beda potensial inilah yang menyebabkan baterai tersebut dapat mengalirkan arus listrik jika dipasangkan secara benar dalam sebuah rangkaian. Suatu saat, karbon dan elektrolit dari baterai akan habis sehingga baterai tersebut tidak dapat menghasilkan arus listrik. Baterai termasuk sumber arus listrik yang tidak dapat diisi ulang.

Dengan adanya arus listrik ini, kamu akan dipermudah memperoleh sumber energi listrik yang dapat dibawa ke mana-mana, sehingga akan lebih mudah dan praktis. Baterai masih banyak digunakan pada jam dinding, radio, lampu senter, dan sebagainya. Pemanfaatan baterai dalam kehidupan sehari-hari ditunjukkan pada Gambar dibawah ini.
Elemen - Elemen Primer Gaya Gerak Listrik
Elemen - Elemen Primer Gaya Gerak Listrik


Penyempurnaan dari sel seng karbon adalah baterai alkalin. Ukuran, bentuk, dan tegangannya mirip dengan sel seng karbon, tetapi jika digunakan dalam suatu peralatan, sel alkalin dapat bertahan enam atau tujuh kali lebih lama dibanding sel seng karbon biasa. Dalam sel alkalin mengandung elektrolit larutan kalium hidroksida. Pelat logamnya terbuat dari nikel dan senyawa kadmium.

b. Elemen Volta (Elemen - Elemen Primer)
Elemen volta ini kali pertama ditemukan oleh Alessandro Volta (1745 – 1827) seorang ahli Fisika berkebangsaan Italia. Elemen volta adalah sel elektrokimia yang dapat menghasilkan arus listrik. Gambar dibawah ini memperlihatkan sebuah elemen volta.
Elemen - Elemen Primer Gaya Gerak Listrik

Elemen volta terdiri atas tabung kaca yang berisi larutan asam sulfat (H2SO4) dan sebagai anoda adalah logam Cu (tembaga) sedangkan kutub negatif adalah Zn (seng). Jika elektroda-elektroda seng dan tembaga dimasukkan ke dalam larutan asam sulfat, akan terjadi reaksi kimia yang menyebabkan lempeng tembaga bermuatan listrik positif dan lempeng seng bermuatan listrik negatif. Hal ini menunjukkan bahwa lempeng tembaga memiliki potensial lebih tinggi daripada potensial lempeng seng. Elektron akan mengalir dari lempeng seng menuju lempeng tembaga. Jika kedua lempeng ini dirangkaikan dengan lampu, arus akan mengalir dari lempeng tembaga ke lempeng seng sehingga
lampu akan menyala. Namun, aliran arus listrik ini tidak berlangsung lama sehingga lampu akan padam. Hal ini dikarenakan gelembung-gelembung gas hidrogen yang dihasilkan oleh asam sulfat (H2SO4) akan menempel padalempeng tembaga. Gelembung gas hidrogen ini akan menghambat aliran elektron. Kamu telah mengetahui bahwaarus listrik adalah aliran elektron-elektron sehingga jika aliran elektron ini terhambat, tidak akan ada arus yang mengalir.

Peristiwa ini disebut polarisasi. Dengan kata lain, polarisasi adalah peristiwa tertutupnya elektroda elemen oleh hasil reaksi yang mengendap pada elektroda tersebut. Namun demikian, ide Volta inilah yang menjadi prinsip dalam pembuatan baterai dan aki.

c. Elemen Daniell (Elemen - Elemen Primer)
Cara kerja elemen daniell pada dasarnya sama dengan cara kerja elemen volta. Namun pada elemen daniell ditambahkan larutan tembaga sulfat (CuSO4) untuk mencegah terjadi polarisasi, yang dinamakan depolarisator sehingga usia  elemen dapat lebih lama. Perhatikan diagram sel daniell

Semoga tulisan ilmue elektronika dan fisika ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Elemen - Elemen Primer Gaya Gerak Listrik, terima kasih telah berkunjung.


Thursday, 17 November 2016

Pengertian Tumbukan Elastis Sempurna Elastis Sebagian dan Tidak Elastis

Pengertian Tumbukan Elastis Sempurna Elastis Sebagian dan Tidak Elastis - Kata tumbukan tentu tidak asing lagi bagi kalian. Mobil bertabrakan, permainan tinju dan permainan bilyard merupakan contoh dari tumbukan. Untuk di SMA ini dipelajari tumbukan sentral yaitu tumbukan yang sejenis dengan titik beratnya sehingga lintasannya lurus atau satu dimensi. 

Setiap dua benda yang bertumbukan akan memiliki tingkat kelentingan atau elastisitas. Tingkat elastisitas ini dinyatakan dengan koefisien restitusi(e). Koefisien restitusi didefinisikan sebagai nilai negatif dari perbandingan kecepatan relatif sesudah tumbukan dengan kecepatan relatif sebelumnya.
Pengertian Tumbukan Elastis Sempurna Elastis Sebagian dan Tidak Elastis
Pengertian Tumbukan Elastis Sempurna Elastis Sebagian dan Tidak Elastis

Pengertian Tumbukan Elastis Sempurna Elastis Sebagian dan Tidak Elastis

Berdasar nilai koefisien restitusi inilah, tumbukan  dapat dibagi menjadi tiga. Tumbukan elastis sempurna,  elastis sebagian dan tidak elastis. Pahami ketiga jenis tumbukan pada penjelasan berikut.
Pengertian Tumbukan Elastis Sempurna Elastis Sebagian dan Tidak Elastis

a.  Tumbukan elastis sempurna
Tumbukan elastis sempurna atau lenting sempurna adalah tumbukan dua benda atau lebih yang memenuhi hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi kinetik.Pada tumbukan ini memiliki koefisien restitusi satu, e = 1.

b. Tumbukan elastis sebagian
Pada tumbukan elastis (lenting) sebagian juga berlaku kekekalan momentum, tetapi energi kinetiknya hilang sebagian. Koefisien restitusi pada tumbukan ini memiliki nilai antara nol dan satu (0 < e < 1).

c.  Tumbukan tidak elastis
Tumbukan tidak elastis atau tidak lenting merupakan peristiwa tumbukan dua benda yang memiliki 
ciri setelah tumbukan kedua benda bersatu. Keadaan ini dapat digunakan bahasa lain, setelah bertumbukan; benda bersama-sama, benda bersarang dan benda bergabung. 

Kata-kata itu masih banyak lagi yang lain yang terpenting bahwa setelah bertumbukan benda menjadi satu. Jika tumbukannya seperti keadaan di atas maka koefisien restitusinya akan nol, e = 0. Pada tumbukan ini sama seperti yang lain, yaitu berlaku hukum kekekalan momentum, tetapi energi kinetiknya tidak kekal.

Monday, 14 November 2016

Pengertian Hipermetropi dan Contoh Soal Hipermetropi

Pengertian Hipermetropi dan Contoh Soal Hipermetropi - Hipermetropi adalah cacat mata dimana mata tidak dapat melihat dengan jelas benda-benda yang letaknya dekat. Titik dekatnya lebih jauh daripada titik dekat mata normal (titik dekat > 25 cm). 

A. Pengertian Hipermetropi

Pernahkah Anda melihat orang yang membaca koran dengan letak koran yang agak dijauhkan? Orang semacam itulah yang dikatakan menderita hipermetropi.

Penderita hipermetropi hanya dapat melihat dengan jelas benda-benda yang letaknya jauh sehingga cacat mata ini sering disebut mata terang jauh.

Hipermetropi disebabkan lensa mata terlalu pipih dan sulit dicembungkan sehingga bila melihat benda-benda yang letaknya dekat, bayangannya jatuh di belakang retina. Supaya dapat melihat benda-benda yang letaknya dekat dengan jelas, penderita hipermetropi ditolong dengan kaca mata berlensa cembung (positif).
(a) Membaca dengan jarak yang dijauhkan
(b) Lensa cembung membantu penderita hipermetropi untuk melihat benda yang letaknya dekat dengan jelas

Hipermetropi dapat terjadi karena mata terlalu sering/terbiasa melihatbenda-benda yang jauh. Cacat mata ini sering dialami oleh orang-orang yang bekerja sebagai sopir, nahkoda, pilot, masinis, dan sebagainya.

B. Contoh Soal Hipermetropi

Reni yang menderita rabun dekat mempunyai titik dekat 50 cm. Jika ingin membaca dengan jarak normal (25 cm), maka berapa kekuatan lensa kacamata yang harus dipakai Reni?
Jawaban
Diketahui
s = 25 cm
s' = -50 cm (tanda negatif menunjukkan bayangan bersifat maya, di depan lensa)

Ditanyakan: P = ... ?
Jawab :

Jadi, kekuatan lensa kaca mata yang harus dipakai Reni adalah 2 dioptri.

Semoga tulisan kami tentang Pengertian Hipermetropi dan Contoh Soal Hipermetropi ini bisa bermanfaat buat para pembaca sekalian.

Sunday, 13 November 2016

Relativitas Newton dan Relativitas Einstein

Relativitas Newton dan Relativitas Einstein - Relativitas sudah dikenal sejak jamannya Newton. Relativitas ini berasal dari kata relatif. Suatu gerak relatif berarti suatu gerak yang tergantung pada suatu acuan tertentu. Acuan itulah tempat suatu pengamat dan pengamat sendiri dapat memiliki dua kemungkinan yaitu pengamat diam dan pengamat bergerak. Dalam kaitannya dengan vektor relatif itu berarti selisih vektor. 

Relativitas Newton dan Relativitas Einstein

A. Relativitas Newton

Pada relativitas Newton, semua besaran akan sama saat diukur oleh pengamat yang diam maupun pengamat yang bergerak. Besaran yang berubah hanyalah kecepatan relatif dan berlaku persamaan berikut:
Relativitas Newton
Relativitas Newton

dengan:
Vx’  =  kecepatan relatif benda terhadap pengamat bergerak
Vx  =  kecepatan relatif benda terhadap pengamat diam
V =  kecepatan pengamat bergerak terhadap pengamat diam

B. Postulat Einstain

Masih ingat percobaan Michelson dan Morley ? Hasil percobaan Michelson dan Morley itulah yang telah meletakkan dasar dua postulat Einstein. Kedua postulat tersebut kemudian menjadi dasar teori relativitas khusus. 
Kedua postulat itu adalah :
Postulat pertama, hukum fisika dapat dinyatakan dalam persamaan yang berbentuk sama dalam semua kerangka acuan inersia. 
Postulat kedua, kecepatan cahaya dalam ruang hampa sama besar untuk semua pengamat, tidak tergantung dari keadaan gerak pengamat itu. Kecepatan cahaya di ruang hampa sebesar c = 3.10 (Pangkat 8) m/s. 

Dengan dasar dua postulat tersebut dan dibantu secara matematis dengan transformasi Lorentz, Einstain dapat menjelaskan relativitas khusus dengan baik. Hal terpenting yang perlu dijelaskan dalam transformasi Lorentz adalah semua besaran yang terukur oleh pengamat diam dan bergerak tidaklah sama kecuali kecepatan cahaya. Besaran -besaran yang berbeda itu dapat dijelaskan seperti dibawah.

Pada postulat Einstain telah dijalaskan bahwa besaran yang tetap dan sama untuk semua pengamat hanyalah kecepatan cahaya berarti besaran lain tidaklah sama. Besaran - besaran itu diantaranya adalah kecepatan relatih benda, panjang benda waktu, massa dan energi.

Kontransi panjang adalah penyusutan panjang suatu benda menurut pengamat yang bergerak.

Dilatasi waktu adalah peristiwa pengembungan waktu menurut pengamat yang bergerak.

Perubahan besaran oleh pengamat diam dan bergerak juga terjadi pada massa benda dan energinya.

Thursday, 4 August 2016

Pengertian Keadaan Mikroskopik Makroskopik Fisika Statistik

Pengertian Keadaan Mikroskopik Makroskopik Fisika Statistik - Kedaan makroskopik dan keadaan mikroskopik kita dapatkan dalam materi fisika statistik di Universitas, lalu apa pengertian keadaan makroskopik dan kedaan mikroskopik tersebut, selanjutnya apa sih perbedaannya. Berikut ini uraiannya


Pengertian Keadaan Mikroskopik Makroskopik Fisika Statistik

Pengertian Keadaan Mikroskopik

a. Keadaaan Mikroskopik
Bila suatu sistem fisis banyak partikel akan kita deskripsikan secara klasik, maka pendeskripsian kinematikanya, cukup dengan memberikan nilai posisi dan momentum
setiap partikelnya, sebagai fungsi waktu. Sehingga keadaan gerak dari setiap partikel dalam sistem diketahui. Bila q adalah lambang untuk koordinat umum posisi, dan p adalah lambang untuk koordinat umum momentum, maka untuk pendekatan klasik, setiap variabel (qi, pi) untuk i = 1, . . . , 3N cukup untuk mendeskripsikan keadaan gerak sistem N buah partikel dalam ruang berdimensi tiga (dengan asumsi tidak ada persyaratan fisis lain yang mengkaitkan variabelvariabel tersebut, yang dapat menyebabkan derajat kebebasan sistem berkurang). Set variabel (qi, pi) inilah yang mendeskripsikan keadaan mikroskopik dari sistem. Set (qi, pi) dapat dibayangkan sebagai suatu titik dalam ruang berdimensi 6N yang disebut dengan ruang fase klasik. Suatu titik tertentu dalam ruang fase tepat terkait dengan satu keadaan mikroskopik yang berupa keadaan gerak seluruh bagian (misalnya keseluruh N partikel) dalam sistem.
Salah satu buku rujukan fisika statistik

Pengertian Keadaan Makroskopik

b. Keadaan Makroskopik
Keadaan makrokopis adalah keadaan fisis suatu sistem merupakan perwujudan rerata kuantitas mikro sistem tersebut. Sebagai contoh, tekanan dari suatu gas merupakan perwujudan rerata tumbukan molekul-molekul gas dengan suatu permukaan, temperatur suatu materi terkait dengan rerata energi kinetik partikel-partikel dalam materi, dan lain sebagainya.

Nah, itulah informasi megenai Pengertian Keadaan Mikroskopik Makroskopik Fisika Statistik. Semoga bermanfaat yah

Perbedaan Antara Assembli Klasik dan Kuantum

Perbedaan Antara Assembli Klasik dan Kuantum - Dalam Fisika Statistik di perguruan tinggi, khususnya anda yang mengambil jurusan Fisika, maka kita mengenal yang namanya Assembli Klasik dan Kuantum, nah apa perbedaan dari Assembli klasik da kuantum ini, berikut pembahasannya

Perbedaan Antara Assembli Klasik dan Kuantum

Klasik
- Terbedakan antara satu dengan lainnya (distinguishable)
- Energi kontinu
- Tak memenuhi prinsip larangan Pauli
Perbedaan Antara Assembli Klasik dan Kuantum

Kuantum : Terdapat dua tipe 
Tipe I  (fermion) :
- Tak terbedakan antara satu dengan lainnya (indistinguishable)
- Energi disktrit
- Memenuhi prinsip larangan Pauli 
Misalnya : elektron dalam zat padat

Kuantum : Terdapat dua tipe 
Tipe II (boson) :
- Tak terbedakan antara satu dengan lainnya (indistinguishable)
- Energi disktrit
- Tidak memenuhi prinsip larangan Pauli 
Misalnya : foton atau partikel alpha

Perbedaan Antara Assembli Klasik dan Kuantum

Friday, 29 July 2016

Peta Konsep Hukum Newton Tentang Gerak

Peta Konsep Hukum Newton Tentang Gerak - Setiap benda atau makhluk pasti bergerak. Benda dikatakan bergerak apabila terjadi perubahan posisi benda tersebut terhadap sebuah titik acuan. Karena bergantung pada titik acuan, maka gerak dikatakan bersifat relatif. Perhatikan gambar di atas. Sepeda motor dikatakan bergerak terhadap bangunan pasar. Hal ini karena ada perubahan jarak sepeda motor
terhadap bangunan pasar.

Peta Konsep Hukum Newton Tentang Gerak

Gaya merupakan suatu besaran yang menyebabkan benda bergerak. Pada olah raga bulu tangkis, sebuah gayadiberikan atlet pada bola sehingga menyebabkan bola berubah arah gerak. Ketika sebuah mesin mengangkat lift, atau martil memukul paku, atau angin meniup daun-daun pada sebuah pohon, berarti sebuah gaya sedang diberikan. Kita katakan bahwa sebuah benda jatuh karena gaya gravitasi. 

Jadi, gaya dapat menyebabkan perubahan pada benda, yaitu perubahan bentuk, sifat gerak benda, kecepatan, dan arah gerak benda. Di sisi lain, gaya tidak selalu menyebabkan gerak. Sebagai contoh, jika kalian mendorong tembok dengan sekuat tenaga, tetapi tembok tetap tidak bergerak.

Peta Konsep Hukum Newton Tentang Gerak
Semoga informasi mengenai peta konsep dalam mata pelajaran fisika ini dapat membantu yah. Peta Konsep Hukum Newton Tentang Gerak


Tuesday, 26 July 2016

Syarat suatu gerak dikatakan getaran harmonik

Syarat suatu gerak dikatakan getaran harmonik - Gerak harmonik merupakan gerak sebuah benda dimana grafik posisi partikel sebagai fungsi waktu berupa sinus (dapat dinyatakan dalam bentuk sinus atau kosinus). Gerak semacam ini disebut gerak osilasi atau getaran harmonik. Contoh lain sistem yang melakukan getaran harmonik, antara lain, dawai pada alat musik, gelombang radio, arus listrik AC, dan denyut jantung. Ilmuwan Galileo di duga telah mempergunakan denyut jantungnya untuk
pengukuran waktu dalam pengamatan gerak.


Syarat suatu gerak dikatakan getaran harmonik


Untuk memahami getaran harmonik, Anda dapat mengamati gerakan sebuah benda yang diletakkan pada lantai licin dan diikatkan pada sebuah pegas (Gambar dibawah). Anggap mula-mula benda berada pada posisi X = 0 sehingga pegas tidak tertekan atau teregang. Posisi seperti ini dinamakan
posisi keseimbangan. Ketika benda ditekan ke kiri (X = –) pegas akan mendorong benda ke kanan, menuju posisi keseimbangan. Sebaliknya jikabenda ditarik ke kanan, pegas akan menarik benda kembali ke arah posisi keseimbangan (X = +).


Gerak benda pada lantai licin dan terikat pada pegas untuk posisi normal (a),teregang (b), dan tertekan (c).

Gaya yang dilakukan pegas untuk mengembalikan benda pada posisi keseimbangan disebut gaya pemulih. Besarnya gaya pemulih menurut Robert Hooke dirumuskan sebagai berikut.

F = -kX
Tanda minus menunjukkan bahwa gaya pemulih selalu pada arah yang berlawanan dengan simpangannya. Jika Anda gabungkan persamaan di atas dengan hukum II Newton, maka diperoleh persamaan berikut.

 Percepatan berbanding lurus dan arahnya berlawanan dengan simpangan

Terlihat bahwa percepatan berbanding lurus dan arahnya berlawanan dengan simpangan. Hal ini merupakan karakteristik umum getaran harmonik. Syarat suatu gerak dikatakan getaran harmonik, antara lain:

1. Gerakannya periodik (bolak-balik).
2. Gerakannya selalu melewati posisi keseimbangan.
3. Percepatan atau gaya yang bekerja pada benda sebanding dengan posisi/ simpangan benda.
4. Arah percepatan atau gaya yang bekerja pada benda selalu mengarah ke posisi keseimbangan.

Sekian informasi mengeai Syarat suatu gerak dikatakan getaran harmonik

Saturday, 16 April 2016

Rumus Kecepatan Tinggi dan Waktu Gerak Jatuh Bebas

Rumus Kecepatan Tinggi dan Waktu Gerak Jatuh Bebas - Dalam Fisika kita mengenai yang namanya Gerak Lurus Beraturan dan juga Gerak Lurus Berubah Beraturan atau yang biasa disingkat dengan GLB dan GLBB, lalu apa hubungannya dengan Rumus Kecepatan Tinggi dan Waktu pada Gerak Jatuh Bebas? Simak pembahasannya di bawah ini

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Pengertian Gerak Jatuh Bebas

Gerak jatuh bebas (Wikipedia) atau GJB adalah salah satu bentuk gerak lurus dalam satu dimensi yang hanya dipengaruhi oleh adanya gaya gravitasi. Variasi dari gerak ini adalah gerak jatuh dipercepat dan gerak peluru.
Aplikasi nyata dari gerak lurus berubah beraturan dengan percepatan apositif (gerak lurus dipercepat dengan percepatan atetap) ini adalah suatu benda yang dijatuhkan dari ketinggian hmeter dengan kecepatan awal nol atau tanpa kecepatan awal. Percepatan yang dialami oleh benda tersebut adalah percepatan gravitasi bumi g (m/s2). Lintasan gerak benda ini berupa garis lurus. 
Gerak benda semacam ini yang disebut gerak jatuh bebas.
Jadi kesimpulannya:

Gerak jatuh bebas didefinisikan sebagai gerak suatu benda yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu di atas tanah tanpa kecepatan awal dan dalam geraknya hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi.

 Rumus Kecepatan Gerak Jatuh Bebas

Kecepatan gerak jatuh bebas
dengan :
v (t) = kecepatan pada waktu t(m/s),
v= kecepatan awal (t = 0) (m/s),
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2),
t = waktu (s).

Ketinggian pada Gerak Jatuh Bebas

Persamaan ketinggian pada gerak jatuh bebas
Waktu yang diperlukan oleh benda untuk mencapai tanah dari ketinggian hdengan persamaan

Rumus Waktu pada Gerak Jatuh Bebas

Persamaan waktu pada gerak jatuh bebas
dengan :
h = ketinggian benda (m)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2),
t = waktu (s).

Kecepatan benda pada saat tdapat diperoleh dengan memasukkan persamaan t dari persamaan
sehingga di dapatlah 

Keterangan rumus:
v = kecepatan benda (m/s),
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2),
h = ketinggian  (m).

Semoga kumpulan Rumus Kecepatan Tinggi dan Waktu Gerak Jatuh Bebas ini bisa bermanfaat yah, terutama adik-adik kelas X.

Wabillahi taufiq Wal Hidayah … Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika … Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Friday, 18 March 2016

Prinsip Kerja Teleskop dan Rumus Perbesaran pada Teleskop

Prinsip Kerja Teleskop dan Rumus Perbesaran pada Teleskop – Hai para fisikawan, selamat datang kembali di blog saya, nah kali ini kita akan berbicara mengenai salah satu alat optik dalam ilmu fisika yang biasa digunakan oleh para ilmuwan khususnya ilmuwan astronomi untuk mengamati benda langit. PAsti sudah tahukan apa nama alatnya, yup alatnya adalah TELESKOP.

Teleskop banyak jenisnya, namun kali ini hanya akan dijelaskan meengenai PRINSIP KERJA TELESKOP.

Prinsip Kerja Teleskop dan Rumus Perbesaran pada Teleskop

Prinsip Kerja Teleskop

Teleskop atau teropong digunakan untuk melihat benda-benda besar yang letaknya jauh. Fungsi teleskop untuk membawa bayangan benda yang terbentuk lebih dekat sehingga tampak benda lebih besar. Pada tahun 1608, Hans Lippershey ilmuwan Belanda berhasil membuat teleskop. Pada tahum 1611, seorang ilmuwan Italy, Galileo berhasil membuat teropong dengan perbesaran sampai dengan 30 kali. Galileo adalah orang pertama yang menggunakan teleskop untuk mengamati benda-benda langit. Dia berhasil mengamati adanya pegunungan di Bulan dan bulan-bulan yang mengitari planet Yupiter. Teleskop ini lebih sering digunakan untuk mengamati benda-benda langit sehingga sering disebut teleskop astronomis. Contoh diagram sketsa teleskop astronomis ditunjukkan pada Gambar 1.

Prinsip Kerja Teleskop

Gambar #1. Diagram sketsa teleskop astronomis (Tipler, 1991)

Teleskop ini terdiri atas dua lensa positif. Lensa positif yang dekat dengan benda disebut lensa objektif, yang berfungsi untuk membentuk bayangan dari benda sejati dan terbalik. Lensa yang dekat dengan mata disebut lensa mata atau lensa okuler yang berfungsi sebagai kaca pembesar sederhana untuk melihat bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif. Letak benda sangat jauh sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif berada pada titik fokus lensa tersebut, dan jarak bayangan sama dengan panjang fokus lensa tersebut.

Rumus Perbesaran pada Teleskop

Kekuatan perbesaran teleskop M dengan perbandingan dengan:

(theta) 0e = Sudut yang dibentuk oleh bayangan akhir sebagaimana tampak oleh lensa mata, 

(theta) 00 = Sudut yang dibentuk benda apabila benda tersebut dilihat langsung oleh mata telanjang.
Dengan menggunakan pendekatan untuk sudut kecil yaitu tan 0 (theta) = 0 (theta) maka dari gambar (1) diperoleh bahwa :

Prinsip Kerja Teleskop

(tanda - diambil agar jika y' negatif maka 0o positif). Sudut 0e pada Gambar (1) adalah sudut yang dibentuk oleh bayangan akhir yaitu sebesar:

Prinsip Kerja Teleskop

sehingga kekuatan perbesaran teleskop adalah:

Prinsip Kerja Teleskop

dengan:
fe = jarak fokus lensa mata atau okuler, dan
fo = jarak fokus lensa objektif.
Dalam pengembangan selanjutnya, para ilmuwan berhasil mengganti lensa objektif suatu teleskop dengan sebuah cermin cekung besar yang berfungsi sebagai pemantul cahaya. Teleskop ini disebut teleskop pantul. Teleskop pantul terdiri atas satu cermin cekung besar, satu cermin datar kecil dan satu lensa cembung untuk mengamati benda, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

Prinsip Kerja Teleskop

Gambar #2. Diagram sinar teleskop pantul untuk pengamatan benda langit

Prinsip Kerja Teleskop dan Rumus Perbesaran pada Teleskop

Semoga info fisika berjudul Prinsip Kerja Teleskop dan Rumus Perbesaran pada Teleskop ini bisa bermanfaat bagi anda yah.

Monday, 7 March 2016

Experimen Fisika Video Membelokkan Cahaya

Experimen Fisika Video Membelokkan Cahaya
Apakah cahaya dapat dibelokkan, atau dapat dapatkah cahaya berbelok untuk mengetahuinya silahkan lihat experimen fisikanya berikut ini.

Experimen Fisika Video Membelokkan Cahaya

Thursday, 18 February 2016

Contoh Soal Penyelesaian Gaya Gesek Statis Maksimum

Contoh Soal Penyelesaian Gaya Gesek Statis Maksimum – Kali ini Garda Pengetahuan akan memberikan informasi FISIKA menarik tentang gaya gesek statis maksimum dari 3 buah benda yang tersusun seperti pada gambar di bawah ini

Contoh Soal Penyelesaian Gaya Gesek Statis Maksimum

Gaya Gesekan

Soal dan Penyelesaiannya

Itulah Contoh Soal Penyelesaian Gaya Gesek Statis Maksimum semoga bisa bermanfaat bagi anda para fisikawan.

Mengapa Benda – Benda yang Ada Disekitar Kita Jatuhnya (Tertarik) ke Bumi

Mengapa Benda – Benda yang Ada Disekitar Kita Jatuhnya (Tertarik) ke Bumi – Pernahkah anda melempar sebuah benda ke atas? lalu kemudian benda tersebut akan jatuh kembali kebawah alias turun ke bumi. Misalnya saya melempar sebuah batu ke atas maka lama kelamaan batu tersebut akan jatuh kembali ke bumi akibat adanya GAYA GRAVITASI (GRAVITIONAL FORCE). Lalu bagaimana penjelasan secara fisika mengnai hal tersebut?

Mengapa benda yang jatuh tertarik ke bumi

Penjelasan secara fisika mengenai benda yang jatuh dan tertarik ke bumi

Than'k’s to Ayahanda Herman S.Pd, M.Pd. Itulah tadi penjelasan Mengapa Benda – Benda yang Ada Disekitar Kita Jatuhnya (Tertarik) ke Bumi .

Saturday, 16 January 2016

Tiitik Didih dan Titik Beku Air Menururt Skala Reamur dan Skala Fahrenheit

Tiitik Didih dan Titik Beku Air Menururt Skala Reamur dan Skala Fahrenheit – Skala suhu penting untuk kita pahami karena dengan memahaminya maka kita juga dapat menentukan persamaan untuk konversi suhu. Nah untuk air titik didih dalam skala celcius adalah 100oC  sedangkan titik bekunya adalah 0oC  lalu bagaimana dengan skala Reamur dan Skala Fahrenheit?

Nah untuk mengetahuinya lihatlah gambar dibawah ini:

Tiitik Didih dan Titik Beku Air Menururt Skala Reamur dan Skala Fahrenheit

Tiitik Didih dan Titik Beku Air Menururt Skala Reamur dan Skala Fahrenheit

Nah sudah tahukan skalanya, semoga informasi ini bisa bermanfaat yah. Tiitik Didih dan Titik Beku Air Menururt Skala Reamur dan Skala Fahrenheit

Thursday, 14 January 2016

Contoh - Contoh Soal Menghitung Suhu Fahrenheit dari Reamur

Contoh - Contoh Soal Menghitung Suhu Fahrenheit dari Reamur - Dalam ilmu fisika kita mengenal beberapa satuan dalam suhu, diantaranya adalah Celcius, Reamur, Fahrenhet dan Kelvin. 
Rumus Konversi Suhu Reaumur (R) ke Suhu Fahrenheit (F)
Termometer Reaumur terdiri dari 80 skala sedangkan termometer Fahrenheit memiliki 180 skala. Konversi suhu Reaumur ke suhu Fahrenheit didasarkan pada perbandingan skala suhu Fahrenheit terhadap suhu Reaumur yaitu 180/80 = 9/4. Skala suhu Celsius dimulai dari 0 sedangkan skala suhu Fahrenheit dimulai dari 32 sehingga suhu Fahrenheit yang dibandingkan harus dikurangi dengan angka 32. Dalam persamaan matematika perbandingan ini ditulis sebagai berikut.

 Perbandingan skala suhu Fahrenheit terhadap skala suhu Reaumur

Berdasarkan persamaan tersebut maka untuk menghitung suhu Fahrenheit berdasarkan suhu Reaumur digunakan rumus berikut.

Rumus menghitung suhu Fahrenheit berdasarkan suhu Reaumur


Contoh Soal Menghitung Suhu Fahrenheit
Contoh Soal 1
Soal: Ubahlah suhu 36 derajat Reaumur ke dalam skala Fahrenheit. (Petunjuk: Suhu F = (9/4) x suhu R + 32).
Jawab:
Diketahui: Suhu Reaumur = 36 derajat R.
Suhu Fahrenheit = (9/4) x 36  + 32 = 81 + 32 = 113 derajat F.

Contoh Soal 2
Soal: Ubahlah suhu 16 derajat Reaumur ke dalam skala Fahrenheit. (Petunjuk: Suhu F = (9/4) x suhu R + 32).
Jawab:
Diketahui: Suhu Reaumur = 16 derajat R.
Suhu Fahrenheit = (9/4) x 16  + 32 = 36 + 32 = 68 derajat F.

Contoh Soal 3
Soal: Ubahlah suhu 70 derajat Reaumur ke dalam skala Fahrenheit. (Petunjuk: Suhu F = (9/4) x suhu R + 32).
Jawab:
Diketahui: Suhu Reaumur = 60 derajat R.
Suhu Fahrenheit = (9/4) x 60  + 32 = 135 + 32 = 167 derajat F.